Peristiwa Bandung Lautan Api – Latar Belakang dan Kronologis

Sponsors Links

Peristiwa Bandung Lautan api adalah peristiwa kebakaran terbesar sesudah kemerdekan yang  di lakukan oleh 200.000 penduduk Bandung yang membakar rumah mereka dan meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah Bandung Selatan, dalam waktu tujung jam pada tanggal 23 Maret 1946.

Peristiwa ini terjadi karena pasukan Inggris yang mulai memasuki kota  Bandung, sejak bulan Oktober 1945 ingin menggunakan kota Bandung sebagai markas strategi militer dalam perang kemerdekaan Indonesia. Meskipun harus melanggar hasil perundingan dengan RI, tentara sekutu terus berusaha untuk menguasai kota Bandung. Kesepakatan sekutu, Inggris, dan NICA (Nederlands Indie Civil Administration) ini menimbulkan perlawanan heroik dari penduduk dan pemuda pejuang di Bandung yang akhirnya memutuskan untuk membumi hanguskan kota Bandung.

Latar Belakang

Berikut ini linamasi yang terjadi di belakang Peristiwa Bandung Lautan Api :

  • Pasukan Inggris tiba di Bandung, 12 Oktober 1945

Pasukan sekutu, Inggris bagian dari Brigade MacDonald dan NICA mendarat di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Pada awalanya hubungan pasukan Inggris dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka gencar-gencarnya merebut senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali senjata api milik TKR (Sekarang berubah nama menjadi TNI) dan Polisi.

Selain itu sekutu juga meminta semua senjata pihak Indonesia yang merupakan hasil pelucutan Jepang diserahkan kepada mereka. Ditambah orang-orang tahanan Belanda di bebaskan dari kampung tawanan dan melakukan tindakan-tindakan yang menganggu keamanan serta NICA dengan bebas melakukan teror kepada masyarakat. Akibat kehadiran sekutu ini terjadilah bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR yang semakin memanas.

  • Ultinatum Pertama dari Sekutu, 24 November 1945

Malam tanggal 21 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan terus melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian Bandung Utara, termasuk markas sekutu di Hotel Humnn dan Hotel Preanger juga diserang oleh para TKR dan pejuang Indonesia. Tiga hari kemudian, MacDonal menyampaikan ultinatum atau peringatan pertamanya kepada Gubernur Jawa Barat, agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata selambat-lambatnya pada tanggal 29 November 1945.

Namun, para pejuang tidak mengindahkan ultinatum yang diberikan sekutu, hal ini malah menaikkan semangat para pejuang, rakyat dan pemuda yang tergabung dalam TKR dan badan-badan perjuangan lainnya semakin berkobar untuk melawan sekutu. Sejak saat inilah, sering terjadi insiden pertempuran besar dan kecil antara pasukan sekutu dan pejuang yang terus berlangsung di Bandung.

  • Jebolnya bendungan Sungai Cikapundung, 25 November 1945

Malapetaka lain terjadi di Bandung, yaitu dengan jebolnya bendungan Sungai Cikapundung yang terjadi pada malam hari tanggal 25 November 1945. Jebolnya bendungan ini menimbulkan banjir besar dan menelan ratusan korban dan ribuan penduduk yang kehilangan tempat tinggal.

Keadaan Bandung saat itu dimanfaatkan oleh tentara sekutu dan NICA untuk menyerang rakyat yang sedang tertimba musibah. Akhirnya kota Bandung terbagi enjadi dua bagian, yaitu Bandung Utara dan Bandung Selatan. Tentara sekutu berhasil menduduki daerah Bandung Utara dan Republik Indonesia hanya menduduki Bandung Selatan dengan jalur kereta api sebagai batas wilayah mereka.

  • Sekutu semakin menekan

Sejak kehadiran sekutu dan NICA di Bandung semakin membawa bahaya, ditambah Bandung Utara sudah berhasil di kuasai. Setiap harinya perang antara pejuang dan sekutu terus terjadi. Pada tanggal 5 Desember 1945 Sekutu melancarkan kembali aksinya dengan membombardir daerah Lengkong Besar.

Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris kembali menjatuhkan bom dan rentetan tembakan di Cicadas. Masyarakat Bandung yang sudah banyak kehilangan tempat tinggal akibat jebolnya bendungan Sungai Cikapundung, semakin melemah dan tertekan untuk melawan sekutu akibat pemboman ini.

  • Ultinatum kedua, 23 Maret 1934

Melihat para pejuang dan TRI (TKR saat itu berubah nama menjadi TRI) semakin melemah, Sekutu Inggris dan NICA kembali memberikan ultinatum kepada TRI untuk mundur sejauh 11 km dari pusat kota dalam waktu 24 Jam. TRI yang saat itu dipimpin oleh Kolonel A.H.Nasution (Komandan Divisi III) menuruti perintah pemerintah RI Pusat (melalui Syarifuddin Prawiranegara) untuk segera meninggalkan Bandung.

Keputusan yang diambil TRI mendapatkan kontra dari Markas Besar TRI yang bertempat di Yogyakarta, mereka menginginkan wilayah Bandung tetap dipertahankan dan dijaga meskipun harus mengorbankan nyawa. Akhirnya diambilah keputusan agar rakyat Bandung mundur, dan para TRI serta laskar-laskar perjuang (Laskar Rakyat, Barisan Banteng, Barisan Merah, Laskar Wanita, Siliwangi, Pelajar Pejuang) tetap bertahan dan berjuang untuk mempertahankan Bandung Selatan. Walaupun pada akhirnya para pejuang juga ikut mengungsi, karena keadaan yang semakin melemah dan tidak memungkinkan untuk melawan musuh.

  • Keputusan untuk Membumi Hanguskan Bandung

Melihat keadaan yang semakin melemah, mendorong TRI untuk melakukan operasi “Bumi Hangus”. Keputusan untuk meninggalkan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) yang dihadiri oleh semua barisan perjuangan. Tindakan pembumi hangusan, diusulkan oleh Rukana (Komandan Polisi Militer di Bandung) dan disepakati oleh Kolonel A.H Nasution yang mengistruksikan agar seluruh rakyat segera meninggalkan Bandung.

Saat itu juga rakyat mengungsi dalam jumlah rombongan besar ke berbagai daerah, seperti Soreang, Dayeuh Kolot, Cicalengka, Pangelangan. Mereka semua mengungsi meninggalkan harta benda dan hanya membawa barang seadanya. Rakyat pun mundur dan Bandung siap dikosongkan. Pengosongan yang juga disertai pembakaran kota, rumah-rumah dan gedung-gedung dibakar oleh masyarakat dan para pejuang.

Artikel terkait :

ads

Kronologis

Para pejuang Republik Indonesia yang sangat tidak rela jika kotanya diambil oleh pihak musuh dan sebenarnya keputusan untuk mundur sangat menyakiti hati para pejuang. Akhbar (anggota Laskar Pemuda) saat itu menyatakan ketidakrelaannya jika Bandung dikuasai sekutu, berkata :

“Kami waktu itu sudah diajari oleh Jepang tentang politik bumi hangus, dan kami tidakrela kembali di jajah. Jadi ketika kami mundur, semua rumah dibakar oleh pemiliknya”.

TRI pun melancarkan serangan terus menerus ke pos-pos tentara sekutu. Malam itu sejalan dengan pengosongan rakyat yang mengungsi, pembakaran pun terjadi dimana-dimana. Bangunan pertama yang dibakar adalah bangunan Indische Restaurant (Saat ini lokasinya sekitar Bank BRI Jalan Asia Afrika) sekitar pukul 21.oo

Di tengah-tengah pertempuran hebat para pejuang dan sekutu, munculah sosok pemuda berumur 19 tahun yang bernama Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan yang menjalankan misi untuk meledakkan gudang mesiu menggunakan granat tangan, sehingga menjadikan kota Bandung diselimuti oleh api yang berkobar. Persitiwa ini dikenang dengan nama Bandung Lautan Api. Kedua pemuda itu rela mengorbankan nyawa mereka gugur dalam ledakan dahsyat itu, demi menjalankan tugas untuk bangsa dan negara agar tidak kembali di jajah.

Langkah kedua pemuda itupun diikuti oleh seluruh warga Bandung, mereka membakar sendiri rumah-rumah mereka. Bandung yang sudah diledakkan pun benar-benar menjadi lautan api. Iin (75) masih mengenang peristiwa itu, dia ingat saat ayahnya sendiri membakar rumah mereka di Kebon Kalapa bersaksi :

“Supaya tidak jatuh ke tangan Belanda, Bapak rela bakar rumah. Saya masih kecil waktu itu dan mengungsi ke Bale Endah”. kata Iin

Ribuan warga Bandung lainnya melakukan hal sama. Lebih baik membakar rumah daripada membiarkannya jatuh ke tangan sekutu. Saksi mata yang melihat dari ketinggian melihatnya seperti lautan api karena Bandung terbakar di mana-mana dan asap melambung tinggi.

Dampak dari Peristiwa Bandung Lautan Api

Dampak dari peristiwa Bandung Lautan api paling besar dialami oleh masyarakat Bandung, harta benda yang mereka miliki hangus terbakar dan berbagai infrastruktur bangunan juga lenyap ditelan api. Sedangkan sekutu bisa dibilang tidak mendapatkan kerugian apapun dibanding yang di alami masyarakat Bandung. Karena sejak awal tujuan sekutu hanya satu, selain menguasai juga menghancurkan Bandung.

Beberapa bangunan milik sekutu yang di desain cukup kuat, terbukti bertahan ditengah penghancuran oleh TKR dan beberapa bangunan yang cukup rusakpun masih bisa diperbaiki. Dua tahun setelah terjadinya peristiwa heroik itu, tentara Belanda menguasai Bandung pasca dibuatnya Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948. Belanda memaksa pemerintah Indonesia untuk mengosongkan daerah Jawa Barat dari seluruh pasukan Republik Indonesia.

Disusul dengan kegagalan dari Agresi Militer yang dialami oleh pejuang Indonesia, pada 20 Juli – 4 Agustus 1947 dan gencatan senjata pun dilanggar oleh Belanda yang terus menghancurkan basis kekuatan tentara Indonesia. Upaya Belanda terus dilakukan kurang lebih enam bulan lamanya, akibatnya pasukan Indonesia dari divisi Siliwangi akhirnya pindah ke Jawa Tengah sampai dengan Februari 1948.

Tokoh yang Berperan

  1. Mohammad Toha

Mohmmad Toha adalah seorang komandan dari kelompok milisi pejuang pada era Perang Kemerdekaan Indonesia yang bernama Barisan Rakyat Indonesia (BRI) yang lahir di Bandung 1927 dari pasangan Suganda dan Nariah. Nama Mohammad Toha dikenal sebagai pahlawan dalam peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api tanggal 23 Maret 1946.

Toha menjadi yatim saat umur dua tahun, kemudian Ibunya menikah dengan pamannya (adik Suganda) yaitu Suganti. Namun pernikahan itu tidak berlangsung lama, dan Toha kecil diasuk oleh kakeh dan neneknya yaitu Jahiri dan Oneng. Toha memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) yaitu Volk School saat usia tujuh tahun sampai kelas empat, karena muncul Perang Dunia II mengharuskan pendidikan Toha untuk terhenti.

Sejak saat itu, Toha mulai mengenal dunia militer pada masa pemerintahan Jepang melalui organisasi Seinendan, yaitu organisasi buatan Jepang yang didirikan pada 29 April 1423. Selain itu Toha selepas pendidikannya terhenti, Toha menghabiskan masa remajanya di bengkel motor milik pasukan militer Jepang dima ia memperoleh kemampuan berbahasa Jepang.

Setelah Indonesia merdeka , pada 17 Agustus 1945 Toha mulai bergabung dan menjabat sebagai Komandan Seksi I Bagian Penggempur di Barisan Benteng Republik Indonesia (BBRI), yang juga merupakan gabungan dari badan perjuangan pimpinan paman Toha, Ben Alamsyah di Barisan Rakyat Indonesia (BRI) dan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Anwar Sutan Pamuncak.

Pada tanggal 23-24 Maret 1946, warga Bandung melakukan pembumi hangusan wilayah Bantuk sebagai bentuk perlawanan dari ultinatum yang dikeluarakan sekutu untuk meninggalkan Bandung. Peristiwa bersejarah yang dikenal dengan Bandung Lautan Api ini dilakukan setelah penyelenggaraan Musyawarah Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) atas perintah dari Komandan divisi III Kolonel A.H Nasution.

Dalam peristiwa inilah Mohammad Toha beserta Mohammad Ramdan diyakini gugur ketika meledakkan gudang mesiu  terbesar di Dayeuh Kolot dengan dinamit dan garnat tangan. Atas gugurnya Toha dalam menjalankan misinya, Toha pun diangkat menjadi tokoh pahlawan nasional dan kini namanya menjadi nama jalan terpanjang di Bandung Selatan.

Artikel terkait :

2. Kolonel A.H Nasution

A.H Nasution, lahir di Sumatera Utara, 3 Desember 1918 adalah salah satu tokoh utama yang mencetuskan ide untuk melawan tentara sekutu dengan membumi hanguskan Bandung, selain itu ia juga tokoh yang menjadi target dalam Peristiwa G30S/PKI 1965 . Menurut Nasutiion pembumi hangusan adalah salah satu teknik gerilya, karena keadaan sudah semakin genting ketika pasukan sekutu sudah berhasil menduduki wilayah Bandung Utara.

Nasution yang saat itu menjabat sebagai Panglima Divisi  I Siliwangi memberikan perintah agar semua rakyat keluar dari Bandung sebelum pukul 24.00 dan para tentara ia perintahkan untuk bumi hangus semua bangunan yang ada di Bandung, akibatnya pasukan sekutu tidak bisa memanfaatkan infrastruktur Bandung sebagai markas mereka. Tindakan Nasution mendapatkan pertidaksetujuan dari divisi TRI Yogyakarta, mereka menganggap Nasution tidak mau mempertahankan Bandung.

Nasution beralasan tidak ingin mengorbankan 4 divisi yang ia miliki, mengingat tekanan dari sekutu semakin merajalela.

“Kalau musuh akan menduduki Bandung, mereka akan menerima puing-puing bekas pembumi hangusan dan empat batalyon saya akan tetap utuh dan tiap malam masih bisa melakukan gerilya di dalam kota” . kata Nasution di buku Sekitar Perang Kemerdekaan 

Sponsors Link

Panglima Besar Jenderal Sudirman juga ikut mendukung usulan Nasution dan menandatangani Perintah Siasat No.1 yang isinya dalah tindakan bumi hangus.

“Untuk menghadapi serangan Belanda, kita perlu membuat kantung-kantung gerilya dan menjalankan siasat bumi hangus”. Tutur Nasution di buku Jenderal Tanpa Pasukan Politisi Tanpa Partai

Nasution yang juga merupakan wakil Jenderal Sudirman, langsung memerintahkan psukannya untuk melakukan persiapan bumi hangus tersebut.

Saya instruksikan panglima-panglima divisi I, II, II dan IV untuk mengadakan latihan umum menyelubungi persiapan bumi hangus dan basis gerilya yang telah diprogramkan. -A.H Nasution

Perang gerilya dengan teknik bumi hangus pun begitu terkenal. Ketika Presiden Sukarno melakukan perjalanan ke Burma, tahun 1950 teknik itu dinyatakan langsung oleh petinggi Burma kepada Sukarno. Secara berkelakar Sukarno langsung menunjuk Nasution yang saat itu sedang mendampinginya dan berkata ke hadapan hadirin yang hadir “Dia yang melakukan bumi hangus”. 

Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api

Atas peristiwa bersejarah setelah proklamasi tersebut, diperingatilah 23 Maret sebagai Hari Peringatan Bandung Lautan Api, dan dibangun tugu Bandung Lautan Api di Tegalega. Serta aksi yang dilakukan oleh Mohammad Toha dan Mohammad Ridwan, difilmkan dengan judul “Toha Pahlawan Bandung Selatan” dan nama Mohammad Ramdan dan Mohammad Toha diabadikan menjadi sebuah nama jalan di pusat kota Bandung.

  • Monumen Bandung Lautan Api

Monumen Bandung Lautan api adalah monumen yang menjadi markah tanah Bandung, setinggi 45 meter dan memiliki sisi sebanyak 9 bidang. Monumen ini berada di tengah-tengah kota di kawangan Lapangan Tegallega dan selalu menjadi pusat perhatian setiap tanggal 23 Maret.

  • Film Toha, Pahlawan Bandung Selatan

Toha, Pahlawan Bandung Selatan adalah film Indonesia yang diproduksi pada tahun 1961 dengan disutradarai oleh Usmar Ismail. Kisah kepahlawanan Mohammad Toha yang berhasil meledakkan gudang mesiu milik Belanda hingga membuat pertahanan Belanda lumpuh. Film ini diawali dengan penggambaran situasi masyarakat Bandung saat peralihan dari jajahan Jepang ke Belanda yang di dukung Inggris, sementara Indonesia sudah menyatakan kemerdekannya. Selain itu, muncul juga tokoh Toha yang melihat ketikadilan dan penindasan, yang membuat Toha berani mengorbankan dirinya untuk tanah kelahirannya.

  • Jalan Moh.Toha

Jalan Moh. Toha adalah salah satu jalan terpanjang di kota Bandung, yang membelah kota mulai dari persimpangan empat Jalan Bolonggede – Jalan Pungkur – Jalan Moh Toha hingga ke Jalan Raya Dayeuhkolot. Jalan ini juga menyambungkan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung.

Jalan ini melewati jalan-jalan terpenting di kota Bandung, seperti Jalan Ibu Inggit Garnasih (dulu Jalan Ciateul), kawasan Tegallega dan memotong Jalan Soekarno Hatta yang cukup panjang di Bandung. Ketika belum ada Jalan Soekarno Hatta (By pass), Jalan Moh Toha mulai dari Tegallega sampai kawasan industri, sering disebut dengan Jalan Cigereleng.

Ditepi jalan masih jarang rumah, hanya ada kolam dan sawah di sepanjang kawasan itu yang saat ini mulai berubah setelah ada Jalan Soekarno Hatta dan pintu tol Purbaleunyi. Kawasan ini menjadi kawasan berikat, setelah memasuki Kabupaten Bandung dan Perbatasan Kota yang berada di jembatan tol Padaleunyi.

Diujung jalan kawasan Dayeuh Kolot juga terdapat tempat bekas gedung mesiua sekutu yang dibom oleh Moh Toha dan rekannya Moh Ramdan yang gugur dalam pengeboman tersebut. Untung mengenangnya, berdiri juga monumen Moh Toha pada tahun 1990 yang sudah direnovasi pemerintah setempat. Monumen ini berdiri diantara tepi kolam, disampingnya ada plakat yang berisi daftar prajurit yang telah gugur saat peristiwa Bandung Lautan Api dan diseberang kolam belakang terdapat relief.

Sponsors Link

Monumen ini berdiri kokoh berupa api yang menyala yang sedang didadki oleh orang berseragam tentara, dan diatasnya berdiri seorang prajurit sambil memegang bom. Selain nama jalan untuk mengenang Moh Toha, ada juga sekolah yang di dirikan bernama SD Moh Toha yang dekat ITC Kebon Kalapa. Kodam III Siliwangi juga mengabadikan nama Mohammad Toha sebagai nama sebuah gedung di Kologdam di Jalan Aceh.

  • Lagu untuk Mengenang Peristiwa

Selang beberapa tahun kemudian, lagu “Halo-Halo Bandung” ditulis untuk mengenang peristiwa Bandung Lautan Api. Lirik lagu ini melambangkan keadaan emosi rakyat Bandung saat itu, seiring janji akan kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api.

Halo-halo Bandung
Ibukota periangan
Halo-halo Bandung
Kota kenang-kenangan

Sudah lama beta
Tidak berjumpa dengan kau
Sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung rebut kembali

Asal Istilah Bandung Lautan Api

Istilah dari Bandung Lautan Api terkenal setelah peristiwa pembumi hangsuan tersebut. Kolonel A.H Nasution dalam pertemuannya di Regentsweg (Sekarang Jalan Dewi Sartika) kembali dari pertemuan dengan Sutan Sjahrir (yang juga terlibat dalam Peristiwa Rengasdengklok ) di Jakarta, memutuskan strategi yang dilakukan untuk wilayah Bandung setelah menerima ultinatum kedua dari sekutu.

Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir. Dalam pembicaraan itu di Regentsweg, berbicalah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana (Komandan Polisi Militer di Bandung), “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api”. Yang dia sebut lautan api, tetepi sebenarnya lautan air” – kata A.H Nasution

Istilah Bandung Lautan Api muncul di harian Suara Merdeka, pada tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda, Atje Bastaman bersaksi telah menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garuk. Dari puncak bukit itu, Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastama dengan semangat segera menulis berita terbaru dan memberikan judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”. Namun karena kurangnya kapasitas ruang untuk tulisan judulnya, maka judul beritapun ia perpendek menjadi “Bandoeng Laoetan Api”.



Artikel Lainnya



Advertisement

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , ,
Post Date: Friday 26th, August 2016 / 05:19 Oleh :
Kategori : Kemerdekaan