15 Peninggalan Kerajaan Singasari dan Penjelasannya (#Terlengkap)

Sponsors Links

Kerajaan Singasari merupakan kerajaan yang berasal dari Jawa Timur dam didirikan oleh Ken Arok di tahun 1222 yang merupakan salah satu Kerajaan Hindu Budha di tanah air berada di sebelah timur Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur dengan beberapa bukti tentang peninggalan dari Kerajaan ini. Untuk lebih lengkapnya tentang peninggalan dari Kerajaan Singasari bisa dilihat pada ulasan berikut ini.

Artikel terkait:

Peninggalan Kerajaan Singasari

Sejarah dari Kerajaan Singasari ini bisa dibilang cukup singkat sebab sengketa yang terjadi di dalam Kerajaan tentang perebutan kekuasaan seringkali terjadi. Saat Kerajaan Singasari ini tengah sibuk untuk mengirim angkatan perang ke wilayah luar Jawa, pada akhirnya keajaan ini mengalami kemunduran dimana pada tahun 1292 timbul pemberontakan Jayakatwang, Bupati Gelang Gelang, sepupu, ipar dan besan Kertanegara itu sendiri. Pada serangan tersebut, Kertanegara tewas terbunuh yang menyebabkan Kerajaan Singasari mengalami keruntuhan dan Jayakatwang diangkat menjadi raja lalu membangun ibu kota baru di wilayah Kediri sehingga Kerajaan Singasari pun berakhir.

1. Candi Singosari

Peninggalan Kerajaan SingasariCandi Singasari ada di sebuah Desa bernama Desa Candi Renggi, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang yang juga dikenal dengan nama Candi Menara dan Candi Cungkup yang mengartikan Candi ini merupakan candi tertinggi pada masanya. Menurut perkiraan, candi ini dibangun pada tahun 1300 M sebagai cara untuk menghormati Raja Kertanegara. Candi Singasari adalah Candi Syiwa yang dibangun pada bagian tengah halaman dengan beberapa arca Syiwa di sekeliling taman tersebut. Candi ini dibangun di atas batur kaki dengan tinggi 1.5 M tanpa dilengkapi dengan relief di sekitar kakinya.  Sementara pintu masuk menuju candi menghadap ke arah selatan yang ada di depan bilik kecil.

Pintu masuk candi tersebut nampak sederhana dan pada bagian atas pintu dilengkapi dengan pahatan  Kepala Kala sederhana yang membuat timbulnya dugaan jika candi tersebut belum selesai dibangun. Pada bagian kiri, kanan bilik pintu dan juga bagian belakang ada relung sebagai tempat arca yang juga terlihat sederhana. Ukuran dari relung tersebut lebih besar dan ditambahkan dengan bilik penampil serta hiasan kepala kala pada bagian atasnya. Pada ruang utama candi ini juga terdapat Yoni yang pada bagian atasnya sudah terlihat sedikit rusak dan pada kaki Yoni juga tidak dilengkapi dengan hiasan. Candi ini terlihat seperti susun dua sebab di bagian bawah atap candi memiliki bentuk persegi seperti sebuah ruang kecil dengan relung di setiap sisi.

Relung itu pada awalnya diisi oleh arca, akan tetapi sekarang sudah kosong dan di setiap pintu relung juga terdapat kepala kala lengkap dengan pahatan berbeda dengan pintu lainnya. Puncak atap candi memiliki bentuk meru bersusun yang semakin kecil keatasnya dan pada puncak atap sudah sedikit runtuh. Candi Singasari ini sudah mengalami pemugaran oleh pemerintah Belanda tahun 1930 yang bisa terlihat dari pahat catatan di kaki candi tersebut. Pemugaran ini belum dilakukan secara menyeluruh, sebab di sekeliling candi masih ada tumpukan batu yang tidak dikembalikan ke tempat awal. Di halaman candi ada beberapa arca yang sudah rusak sebagian dan belum selesai dibangun seperti arca Syiwa dengan banyak posisi serta ukuran, Durga dan juga lembu Nandini.

Artikel terkait:

2. Candi Jago

Peninggalan Kerajaan SingasariNama candi Jago berasal dari kata Jajaghu yang diambil dari Kitab Negarakertagama da juga Pararaton. Candi ini dibangun saat jaman Kerajaan Singhasari abad ke-13. Jajaghu yang mengartikan keagungan ini adalah istilah yang dipakai untuk mengatakan sebuah tempat yang suci. Candi Jago ini ada di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi ini hanya tersisa sebagian saja dan menurut cerita ini dikarenakan candi tersambar petir. Pada candi ini terlihat relief Kunjarakarna dan juga Pancatantra yang keseluruhan bangunan candi dibangun dengan material batu andhesit. Adityawarman menempatkan Arca Manjusri di Candi Jago ini yang kini disimpan di Museum Nasional.

Candi Jagi disusun dengan teras punden berundak dengan total panjang 23.71 M, lebar 14 M dan ketinggian 9.97 M. Yang tertinggal dari candi ini hanya bagian kaki dan sebagian badan. Badan candi ini disangga dengan 3 teras yang pada bagian teras pertama agak menjorok dan badan candi ada di teras ketiga. Atap dan sebagian candi sudah terlihat terbuka dan bentuk atap aslinya sendiri belum diketahui, akan tetapi banyak yang menduga bentuk atap adalah Pagoda atau seperti Meru.

Ada pahatan relief pada bagian dinding luar kaki candi yang merupakan cerita Khresnayana, Arjunawiwaha, Parthayana, Kunjarakharna, Anglingdharma dan juga Fabel. Dibagian sudut kiri arah barat laut terlukis cerita binatang seperti tantri yang terdiri dari beberapa buah panel. Untuk bagian dinding depan candi terdapat fabel 2 kura-kura menggigit tangkai kayu yang diterbangkan dengan seekor angsa. Saat di tengah perjalanan, kura-kura ditertawakan segerombol serigala dan mereka mendengar kura-kura membalas dengan kata-kata sehingga mulutnya terlihat terbuka. Kura-kura jatuh karena melepas gigitan kayu dan menjadi makanan serigala dan ini bermakna agar jangan mundur saat sedang berusaha hanya karena dihina oleh orang lain.

Pada bagian timur laut terdapat rangkaian cerita Buddha yang menceritakan Yaksa Kunjarakarna yang pergi menuju dewa tertinggi yakni Sang Wairocana untuk belajar ajaran Buddha. Sementara salah satu patung yang dulunya ada di candi Jago ini merupakan lambang dari Dewi Bhrkuti dan di teras ketiga terdapat cerita Arjunawaiwaha dengan riwayat pernikahan Arjuna dengan Dewi Suprabha sebagai hadiah dari Bhatara Guru sesudah Arjuna berhasil mengalahkan raksasa Niwatakawaca. Candi Jago ini sudah mengalami pemugaran dari perintah Raja Kertangeara di tahun 1268 M sampai 1280 M yang dilakukan untuk menghormati Raja Singasari ke-4 ayahnya yakni Sri Jaya Wisnuwardhana yang wafat di tahun 1268. Setelah itu, candi Jago juga dipugar kembali pada tahun 1343 M dengan perintah dari Raja Adityawarman dari Melayu yang masih berhubungan darah dengan Raja Hayam Wuruk dan Adityawarman juga mendirikan candi tambahan dan membangunnya di Arca Manjusri.

Artikel terkait:

Sponsors Link

3. Candi Sumberawan

Peninggalan Kerajaan SingasariPeninggalan Kerajaan Singasari selanjutnya adalah candi sumberawan. Candi Sumberawan ini berbentuk stupa yang ada di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi Sumberawan terbuat dari material batu andhesit dengan panjang 6.25 M, lebar 6.25 M serta tingi 5.23 M yang dibangun pada ketinggian 650 M dari permukaan laut di kaki bukit Gunung Arjuna. Candi ini ditemukan pada tahun 1904 dan diteliti pada tahun 1935 oleh peneliti Dinas Purbakala. Candi ini mengalami pemugaran tahun 1937 jaman Hindia Belanda di bagian kaki candi, sementara sisanya di rekonstruksi dengan seadanya. Candi Sumberawan menjadi satu-satunya stupa yang ada di daerah Jawa Timur dengan bentuk bujur sangkar dan tidak dilengkapi dengan tangga serta tidak ada relief. Candi ini memiliki kaki dan juga badan dengan bentuk stupa. Di batur candi yang tinggi ada selasar dan kaki candi terlihat dari keempat buah sisinya. Pada bagian atas kaki terdapat stupa yang terdiri dari lapik bujur sangkar serta lapik segi delapan dan bantalan Padma, sementara untuk bagian atas memiliki bentuk stupa atau genta yang pada bagian puncaknya sudah hilang.

Karena candi ini tidak dilengkapi dengan tangga seperti pada candi lain yang dibagian dalamnya biasanya digunakan sebagai tempat menyimpan berbagai benda, maka candi ini hanya berbentuk stupa namun tidak berfungsi seperti stupa pada umumnya yang menurut perkiraan memang dibangun hanya sebagai tempat pemujaan saja. Ahli purbakala menduga jika Candi Sumberawan dulu memiliki nama Kasurangganan yang merupakan nama terkenal di dalam Kitab Negarakertagama. Candi ini sudah dikunjungi oleh Hayam Wuruk di tahun 1359 M saat ia melakukan perjalanan.

Artikel terkait:

4. Arca Dwarapala

Peninggalan Kerajaan SingasariArca Dwarapala adalah sebuah patung penjaga gerbang dalam ajaran Siwa dan juga Buddha dengan bentuk manusia terlihat seperti monster. Dwarapala diletakkan pada bagian luar candi, kuil atau bangunan lainnya sebagai pelindung dari tempat suci. Dwarapala digambarkan sebagai sesosok  makhluk seram dan jumlahnya bisa satu, sepasang atau terdiri dari beberapa kelompok. Dua arca Dwarapala ini dikelilingi dengan pagar besi yang ada di pinggir jalan dan terpisah dari jalan tersebut. Letaknya berada di kanan dan kiri jalan utama Desa Candi renggo. Pada arca di sebelah kiri dibangun di atas pedestal buatan tahun 1982 sebab arca tersebut tenggelam sebatas perut menghadap ke utara.

Arca ini dibangun dengan material batu monolitik dengan tinggi 3.70 M yang menjadi pintu gerbang dari Kerajaan Singasari. Kedua arca ini terlihat seperti sama sehingga dikatakan kembar namun posisi tangan saja yang berbeda. Arca yang ada di selatan bagian tangan kiri ada diatas kaki kiri dan tangan kanan memegang gada telungkup. Sedangkan arca di utara, bagian tangan kiri memegang gada telungkup dan tangan kanan seperti sedang memperingatkan dengan jari tengah dan telunjuk mengacung keatas sementara 3 jari lainnya rapat dengan telapak tangan. Ornamen yang ada di 2 arca tersebut terlihat seram dan penuh dengan kekerasan. Pada bagian kepala memakai ikat kepala dengan hiasan tengkorak. Pada bagian telinga memakai anting bentuk tengkorak serta untaian manik-manik dengan nama Kapala Kundala. Sedangkan pada hiasan kelat bahu bernama Sarpa Keyura yakni kelat bahu berbentuk ular.

Artikel terkait:

ads

5. Prasasti Singasari

Prasasti ini didirikan tahun 1351 M yang ditemukan di Singasari, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan untuk saat ini telah di simpan pada museum Gajah dengan tulisan aksara Jawa. Prasasti ini ditulis sebagai pengingat pembangunan Caitya atau candi pemakaman yang dilakukan Mahapatih Gajah Mada. Bagian pertama prasasti adalah pentarikhan tanggal mendetail seperti letak benda angkasa dan bagian kedua menceritakan isis prasasti yakni pariwara pembangunan Caitya.

Artikel terkait:

6. Candi Jawi

Peninggalan Kerajaan SingasariCandi Jawi dengan nama asli Jajawa dibangun sekitar abad ke-13 ini adalah peninggalan sejarah Hindu Buddha Kerajaan Singhasari yang ada di kaki Gunung Welirang, Desa Candi Wates, kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Candi ini diduga sebagai tempat pemujaan atau peribadatan Buddha, akan tetapi ini merupakan pedharmaan atau tempat menyimpan abu dari raja terakhir Singhasari yakni Kertanegara. Abu ini sebagian juga disimpan pada Candi Singasari dan kedua candi ini berhubungan dengan Candi Jago tempat ibadah Raja Kertanegara. Di dalam Negarakertagama pupuh 56 dikatakan jika Candi Jawi didirikan atas perintah raja terakhir Kerajaan Singasari yakni Kertanegara sebagai tempat ibadah umat Siwa-Buddha.

Candi ini berada di area 40 x 60 meter persegi yang dikelilingi pagar bata 2 meter dan dikelilingi parit berhias buang teratai dengan bentuk candi berkaki Siwa dan pundak Buddha. Tinggi candi ini 24.5 meter dengan panjang 14.2 meter serta lebar 9.5 meter. Bentuknya tinggi dan ramping dengan atap berbentuk perpaduan stupa dan kubus bersusun meruncing ke arah puncak. Bagian pintu menghadap ke arah timur dengan posisi membelakangi Gunung Penanggungan. Pada bagian dinding terdapat relief yang belum bisa dibaca hingga sekarang sebab pahatan terlalu tipis dan belum didukung dengan informasi cukup. Pada salah satu fragmen menceritakan keberadaan Candi Jawi dan beberapa bangunan lain di sekeliling candi yang mengatakan jika ada candi Perwara sebanyak 3 buah, akan tetapi 3 buah candi tersebut saat ini sudah rata dengan tanah.

Artikel terkait:

7. Prasasti Wurare

Prasasti WurarePeninggalan Kerajaan Singasari selanjutnya adalah prasasti wurare. Ini merupakan prasasti dengan isi peringatan penobatan arca Mahaksobhaya pada sebuah daerah bernama Wurare sehingga parasasti ini disebut dengan Prasasti Wuware. Prasasti ditulis dengan bahasa Sansekerta 1211 [21 November 1289]. Arca ini merupakan penghormatan untuk Raja Kertanegara yang oleh keturunannya dianggap sudah mencapai derajat Jina atau Buddha Agung.

Sementara tulisan prasasti ada di atas lapik arca Buddha dengan melingkar dibagian bawah. Prasasti ini berbentuk 19 bait sajak dan diantaranya mengisahkan tentang pendeta sakti Arrya Bharad yang sudah membelah tanah Jawa menjadi 2 kerajaan dengan air ajaib yang ada pada kendinya sehingga menjadi Janggala dan Pangjalu. Ini dilaksanakan untuk menghindari terjadinya perang saudara 2 pangeran yang memperebutkan kekuasaan.

8. Candi Kidal

Candi KidalCandi Kidal merupakan warisan dari Kerajaan Singasari yang dibangun sebagai penghormatan untuk Anusapati, Raja kedua Singasari yang sudah memerintah selama 20 tahun dari 1227 sampai dengan 1248. Anusapati tewas dibunuh olah Panji Tohjaya saat perebutan kekuasaan Singasari dan diyakini sebagai kutukan Mpu Gandring. Candi ini sangat kental dengan budaya Jawa Timur dan sudah dipugar pada tahun 1990. Candi ini menceritakan cerita Garudeya, cerita mitologi Hindu dengan pesan moral pembebasan untuk para budak dan masih terjaga utuh hingga sekarang.

Pada penggalan pupuh di dalam Kitab Negarakertagama, yakni sebuah kakawin dengan banyak informasi mengenai kerajaan Majapahit dan juga Singosari menceritakan tentang Raja Singosari 2 yakni Anusapati dan tempat dharma di Candi Kidal. Candi kidal dibuat dengan batu andhesit dan berdimensi geometris vertikal. Pada bagian kaki candi terlihat tinggi dan tangga masuk keatas berbentuk kecil dan tidak terlihat seperti tangga sebenarnya. Bagian badan candi terlihat lebih kecil dibandingkan dengan luas kaki sehingga candi ini terlihat ramping. Pada kaki dan juga badan candi terdapat hiasan berupa medallion dan sabuk melingkar di bagian badan candi

Bagian atap candi terdiri dari 3 tingkat seperti ratna yang merupakan ciri khas dari candi Hindu atau stupa yang merupakan ciri khas dari candi Buddha. Pada setiap tingkat mempunyai ruang sedikit luas dan ditambahkan hiasan yang konon ceritanya pada bagian sudut tingkatan atap terdapat berlian kecil. Kepala Kala di pahat pada bagian atas pitnu masuk serta bilik candi. Kala adalah bagian dari Dewa Siwa yang dikenal sebagai penajga bangunan suci. Hiasan ini terlihat seram dengan mata melotot dan mulut terbuka memperlihatkan 2 taring besar dan bengkok dan taring ini adalah ciri khas dari corak candi Jawa Timur. Pada bagian sudut kiri dan kanan ada jari tangan dengan sikap atau mudra seperti mengancam. Sisa pondasi dari sekeliling tembok berhasil di gali saat pemugaran tahun 1990-an dan terdapat tangga masuk menuju kompleks candi pada bagian barat melewati tembok. Akan tetapi tidak bisa dipastikan apakah ini merupakan bentuk asli atau tidak.

Artikel terkait:

9. Prasasti Manjusri

Prasasti ManjusriPeninggalan Kerajaan Singasari yang selanjutnya adalah prasasti manjusri. Ini merupakan manuskrip yang di pahat di bagian belakang Arca Manjusri 1343 dan ditempatkan pada candi Jago namun sekarang sudah di simpan pada Museum Nasional. Dari tafsiran Bosch pada tulisan prasasti ini menceritakan kemungkinan Adityawarman membangun candi tambahan pada lapangan candi Jago. Namun tidak ada bangunan sisa di bagian samping candi Jago. Karakter dari Manjusri dianggap sebagai personafikasi dari kebijaksanaan transenden yang menceritakan ia duduk diatas tahta berhias teratai dan pada bagian tangan kiri memegang buku sebuah naskah daun palem dan tangan kanan memegang pedang yang berarti melawan kegelapan. Pada bagian dada melingkar sebuah tali dan dikelilingi 4 Dewa yang merupakan replika diri sendiri.

Prasasti ini dipahat dengan aksara Jawa Kuno dan juga bahasa Sansekerta. Prasasti terdiri dari 2 bagian yakni bagian pertama diatas Boddhisattwa dengan 3 baris tulisan dna bagian kedua dipahat di belakang arca dengan 7 baris tulisan. Isi dari prasasti ini adalah mengenai penempatan arca Mañjuśrī oleh Adityawarman pada tempat pendarmaan Jina tahun Śaka 1265.

Peninggalan bersejarah lainnya :

  1. Prasasti Mula Malurung
  2. Arca Prajnaparamita
  3. Mandala Amoghapasa
  4. Prasasti Kudadu
  5. Pemandian Suci
  6. Arca Genesha
Sponsors Link

Raja Raja Kerajaan Singasari

Silsilah dari Kerajaan Singasari ini hadir dalam 2 versi yakni Pararaton dari Prasasti Kudadu dan juga Negarakretagama. Berikut ini adalah beberapa raja yang memerintah pada masa Kerajaan Singasari

  • Ken Arok

Memerintah dari tahun 1222 sampai 1227 Masehi yang merupakan pendiri Kerajaan Singasari dan diberikan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Ken Arok tewas terbunuh pada tahun 1227 Masehi oleh suruhan dari Anusapati, anak tiri Ken Arok dan ia dikebumikan di Kegenengan di bangunan Siwa Buddha.

  • Anusapati

Memerintah dari rahun 1227 sampai 1248 Masehi yang memerintah dalam jangka waktu lumayan lama namun tidak banyak melakukan perkembangan untuk kerajaan karena sering menyabung ayam. Tohjoyo lalu mengundang Anusapati ke Gedong Jiwa untuk pesta sabung ayam dan saat acara berlangsung, secara tiba-tiba, Tohjoyo menusuk Anusapati dengan keris yang dibuat oleh Empu Gandring dan Anusapati didharmakan pada Candi Kidal.

  • Tohjoyo

Memerintah tahun 1248 Masehi sesudah Anusapati meninggal. Pemerintahan tidak berlangsung lama, sebab anak Anusapati yakni Ranggawuni ingin membalas kematian sang ayah dan ia dibantu oleh Mahesa Cempaka serta pengikutnya sehingga akhirnya bisa menjatuhkan Tohjoyo dan memegang Kerajaan tersebut.

  • Ranggawuni

Memerintah dari tahun 1249 sampai 1268 Masehi dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana yang di dapat dari Mahesa Cempaka, anak Mahesa Wongateleng yang memang dipersiapkan untuk mempimpin Kerajaan Singasari sebagai penerus atau pengganti dari Ranggawuni. Pada pemerintahan ini menghasilkan kedamaian sampai tahun 1254 Masehi, Kertanegara yang merupakan anak dari Wisnuwardana diangkat menjadi seorang raja muda dan Wisnu Wardana menutup usia dan didharmakan di Jajaghu tahun 1268 Masehi.

  • Kertanegara

Memerintah dari tahun 1268 sampai 1292 Masehi yang menjadi raja terakhir Kerajaan Singasari sekaligus menjadi raja terbesar sebab impiannya yang ingin membuat nusantara bersatu. Ia diberi gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara dan ia memerintah dengan dibantu oleh 3 mahamentri yakni mahamentri I Hino, mahamentri I Halu serta mahamentri I Sirikan. Beberapa Wide juga ikut dijadikan bupati di daerah Sumenep, Madura serta diberikan gelar Aria Wijaya. Kertanegara didharmakan sebagai Siwa Buddha pada Candi Singasari dan arca-nya terkenal dengan nama Joko Dolog di Taman Simpang, Surabaya.

Demikian ulasan lengkap yang bisa kami berikan mengenai Peninggalan Kerajaan Singasari atau Singhasari yang kami harap bisa menambah pengetahuan dan wawasan mengenai sejarah di Indonesia, terima kasih.

Advertisement

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , , ,
Post Date: Monday 24th, July 2017 / 10:12 Oleh :
Kategori : Kerajaan