12 Sejarah Organisasi Islam Di Indonesia Pada Zaman Kemerdekaan

Sponsors Links

Agama Islam dipeluk oleh mayoritas rakyat Indonesia. Dengan jumlah penganut yang besar, tidak pelak lagi secara sosial dan politik kekuatan massa yang besar ini menjadi potensi tersendiri yang harus diperhitungkan. Umat Islam ada yang bernaung dalam organisasi – organisasi kemasyarakatan yang sangat banyak jumlahnya di Indonesia. Keberadaaan organisasi Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peranannya pada zaman perjuangan kemerdekaan. Peranan para ulama Islam yang tergabung dalam berbagai organisasi akan perjuangan mencapai kemerdekaan tidak bisa diabaikan.

Bahkan para pejuang kemerdekaan pun mayoritas beragama Islam. Di masa sekarang ini, sangat mudah untuk melupakan organisasi Islam pendahulu yang dibentuk pada masa – masa penjajahan dan masa sebelum kemerdekaan karena adanya berbagai isu politik dan sosial, juga keengganan generasi muda mempelajari sejarah bangsanya sendiri. Berikut ini adalah sejarah organisasi Islam di Indonesia yang dibentuk pada masa perjuangan kemerdekaan hingga sekarang.

1. Jam’iyatul Khair

Didirikan pada 17 Juli 1905 di Jakarta, organisasi ini awalnya beraktivitas di bidang pendidikan dasar dan mengirim para pelajar ke Turki dan merupakan satu – satunya organisasi pendidikan modern di Indonesia. Guru – gurunya didatangkan dari Tunisia, Sudan, Maroko, Mesir dan Arab. Korespondensi mereka dengan tokoh – tokoh pergerakan dan juga surat kabar di luar negeri turut menyebarkan kabar mengenai kekejaman pemerintah Belanda. Guru yang terkenal dari sini adalah Syaikh Ahmad Surokati dari Sudan, yang menekankan bahwa tidak ada perbedaan di antara sesama umat muslim yang berkedudukan sama. Para tokoh ulama Indonesia kebanyakan lahir dari organisasi ini seperti KH Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, H. Samanhudi, dan H. Agus Salim.

2. Syarekat Islam

Sejarah organisasi Islam di Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari Syarekat Islam. KH Samanhudi mendirikan organisasi yang awalnya bernama Syarikat Dagang Islam ini pada 1905 di Solo. Namanya berubah menjadi Syarekat Islam pada 1912 dengan prakarsa HOS Tjokroaminoto, H. Agus Salim, AM Sangaji dan KH Samanhudi. Pada awalnya organisasi ini bergerak di bidang keagamaan serta bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup bangsa dalam perniagaan, namun seiring waktu berkembang menjadi gerakan politik dan sosial serta dakwah Islam.

3. Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI)

MIAI dibentuk untuk menjadi wadah bagi ormas – ormas Islam di Indonesia pada zaman sebelum kemerdekaan. Didirikan pada Selasa Wage, 15 Rajab 1356 atau 21 September 1937 dengan prakarsa KH Hasyim Asy’ari. Beberapa ormas Islam anggota MIAI adalah Muhammadiyah, NU, Al Irsyad, Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), Al Khoiriyah, Persyarikatan Ulama Indonesia (PUI), Al Hidayatul Islamiyah, Persatuan Islam (Persis), Partai Islam Indonesia (PII), Partai Arab Indonesia (PAI), Jong Islamiaten Bond, Al Ittihadiyatul Islamiyah dan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Pada awalnya MIAI hanya menjadi koordinator untuk berbagai kegiatan, tetapi kemudian berkembang menjadi wadah yang mempersatukan para umat Islam tanah air untuk menghadapi politik Belanda yang memecah belah para ulama dan partai Islam. Pada periode 1939 – 1945 para ulama bergabung bersama dalam satu majelis.

4. Masyumi

Majelis Syura Muslimin Indonesia atau Sejarah Partai Masyumi kemudian masuk dalam sejarah organisasi Islam di Indonesia sebagai pengganti MIAI yang dibubarkan pada Oktober 1943. Tujuan pendirian Masyumi yang didukung oleh Jepang adalah untuk memperkokoh persatuan umat Islam di Indonesia dan meningkatkan bantuan dari kaum muslimin pada kegiatan perang Jepang.


5. Muhammadiyah

Ketika KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 di Yogyakarta, kondisi umat Islam sedang berada pada titik rendahnya. Hampir seluruh rakyat mengalami keterbelakangan pendidikan, kemakmuran dan tingkat ekonomi yang parah, terlebih lagi tidak memiliki kekuatan dalam bidang politik. Tujuan Muhammadiyah adalah untuk menegakkan dakwah Islamiyah seluas – luasnya mencakup segala bidang termasuk ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan dan dakwah dengan mendirikan banyak sekali sekolah formal, madrasah, rumah sakit, balai pengobatan, rumah yatim piatu atau panti asuhan dan universitas. Beberapa tokohnya diakui sebagai pahlawan nasional yaitu KH Ahmad Dahlan, KH Mas Mansur, Ny. H. Walidah Ahmad Dahlan dan K.H. Fakhruddin.

6. Nadhlatul Ulama (NU)

Arti namanya adalah Kebangkitan Ulama, suatu ormas Islam yang didirikan oleh para ulama yang berasal dari pesantren pimpinan KH. Hasyim Asy’ari di Surabaya pada 31 Januari 1926. Sangat banyak pondok pesantren besar yang didirikan NU di berbagai wilayah di Indonesia, selain itu juga mengelola sekolah – sekolah formal seperti SD, SMP, SMA sampai tingkat perguruan tinggi. Ketika bergabung dalam MIAI, NU akhirnya terlibat dalam dunia politik sampai pembubaran MIAI pada 1943.

7. Persatuan Islam (Persis)

Persis merupakan bagian dari sejarah organisasi Islam di Indonesia yang didirikan oleh para ulama pembaharu di Bandung pada 12 September 1923. Ulama pendirinya adalah KH. Zamzam dan A. Hassan untuk menghilangkan bid’ah, khufarat, takhayul, taqlid dan syirik yang masih dipraktekkan sebagian umat Islam. Tujuan awal yang bagus pada akhirnya berkembang menjadi sesuatu yang meresahkan bagi kelompok lain yang tidak setuju dengan pemikiran Persis. Bahkan tokoh – tokoh yang muncul belakangan tidak lagi memiliki kualifikasi yang setara dengan pendahulunya dalam hal keilmuan, akhlak dan kecerdasan sehingga masyarakat menunjukkan penolakan. Persis juga mendirikan masjid tersendiri yang diberi stempel Persis.

8. Al Irsyad Al Islamiyah

Ormas dalam sejarah organisasi Islam di Indonesia ini didirikan pada tahun 1913 oleh para keturunan Arab yang dipimpin oleh Syaikh Ahmad Syurkati, seorang ulama yang berasal dari Sudan. Tujuan Al Irsyad adalah untuk pergerakan di bidang pendidikan dan dakwah, memperlancar bahasa Arab dan bahasa al Qur’an. Simak juga mengenai sejarah berdirinya organisasi islam yang lain seperti sejarah berdirinya al washliyah, sejarah berdirinya HMI, dan sejarah berdirinya Hizbut Tahrir.

9. Persatuan Umat Islam (PUI)

Ormas ini didirikan oleh KH Abdul Halim, yang merupakan seorang ulama pengasuh di Pondok Pesantren Majalengka, Jabar pada 1911. PUI adalah gabungan dari dua organisasi Islam yang ada di Jawa Barat yaitu Persyarikatan Umat Islam dan organisasi Al Ittihad Al Islamiyah pimpinan KH Ahmad Sanusi di Sukabumi. PUI kemudian mendirikan banyak sekolah serta pondok pesantren di Jawa Barat.

10. Thawalib Sumatera

Pendirian organisasi ini pada tanggal 15 Februari 1920 diprakarsai oleh Syekh Ahmad Abdullah, Haji Abbas Abdullah, Haji Abdul Karim Amrullah, Jalaludin Thaib dan kawan – kawan. Ini adalah pengembangan dari Surau Jembatan Besi yang berdiri pada tahun 1899 di Padang Panjang, sehingga menjadi organisasi pendidikan yang lebih modern dan teratur.

11. Persatuan Tarbiyah Indonesia (PERTI)

Sejumlah ulama terkemuka di Minangkabau pimpinan Syaikh Sulaiman ar- Rasuli mendirikan PERTI pada 20 Mei 1930 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Bidang usaha PERTI adalah pendidikan dan dakwah Islam. Kendati demikian, PERTI juga pernah terjun ke dunia politik sebagai partai politik. Masih ada beberapa organisasi lainnya pada masa kemerdekaan yaitu sejarah perhimpunan Indonesia, sejarah Indische Partij dan sejarah PNI (partai nasional Indonesia).

12. Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)

ICMI adalah organisasi yang menaungi para cendekiawan muslim Indonesia, didirikan oleh para ilmuwan muslim atas dukungan birokrasi pada 1990. Pencetusnya adalah Menristek BJ. Habibie. ICMI bergerak dalam bidang dakwah Islam lewat jalur struktural dan birokrasi negara. Tokoh ICMI yang terkenal antara lain Prof. Dr. Amien Rais, Prof. KH. Ali Yafie, dan banyak lagi.

Advertisement

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, ,




Post Date: Saturday 27th, April 2019 / 03:44 Oleh :
Kategori : Organisasi